JAKARTA — Akses pendidikan bagi anak dari keluarga rentan menjadi perhatian dalam pengembangan Sekolah Rakyat. Sekretariat Kabinet pada 26 Oktober 2026 menyampaikan bahwa dalam dua tahun pertama pemerintahan, 265 Sekolah Rakyat telah dibangun dan membuka kesempatan bagi lebih dari 45 ribu anak untuk kembali bersekolah. Angka tersebut merupakan keterangan resmi pemerintah dan perlu dibaca sesuai definisi serta periode yang digunakan.
Perluasan akses penting bagi anak yang terhambat kondisi ekonomi, tempat tinggal, atau keadaan keluarga. Namun, jumlah sekolah dan peserta hanya menggambarkan sebagian hasil pendidikan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah siswa dapat belajar secara aman, memperoleh dukungan yang dibutuhkan, dan menyelesaikan pendidikan dengan kemampuan memadai.
1. Kehadiran dan keberlanjutan belajar
Indikator awal yang perlu dipantau adalah kehadiran, tingkat putus sekolah, perpindahan siswa, dan kemampuan program mempertahankan peserta. Anak yang kembali bersekolah mungkin membutuhkan dukungan tambahan agar bisa mengejar materi tertinggal. Pendampingan dan komunikasi dengan keluarga dapat membantu memahami penyebab ketidakhadiran.
2. Mutu pengajaran dan dukungan guru
Ruang belajar belum cukup tanpa guru yang memadai, materi sesuai, dan evaluasi perkembangan siswa. Ketersediaan tenaga pengajar, pelatihan, beban kerja, serta dukungan untuk menangani perbedaan kemampuan belajar perlu menjadi bagian pemantauan. Penilaian berkala membantu sekolah mengetahui apakah siswa mengalami kemajuan, bukan hanya apakah kegiatan belajar berlangsung.
3. Lingkungan yang aman
Siswa membutuhkan lingkungan yang aman secara fisik maupun psikologis. Aspek yang perlu diperhatikan meliputi kebersihan, sanitasi, makanan jika disediakan, akses layanan kesehatan, perlindungan anak, serta mekanisme pengaduan yang dapat digunakan tanpa rasa takut. Kebijakan perlindungan harus dipahami oleh siswa, pengajar, pengelola, dan keluarga.
4. Transparansi penerimaan dan pembiayaan
Informasi tentang kriteria penerimaan, kapasitas, biaya yang ditanggung program, dan hak peserta sebaiknya mudah diakses. Proses jelas membantu keluarga memahami persyaratan dan cara mengajukan pertanyaan atau keberatan. Data publik perlu membedakan sekolah yang telah dibangun, yang beroperasi, dan jumlah siswa aktif agar angka tidak disalahartikan.
5. Hasil belajar dan kelanjutan pendidikan
Hasil pendidikan lebih baik dinilai dengan gabungan indikator: kemampuan dasar, perkembangan akademik, keterampilan sosial, kelulusan, dan transisi ke jenjang berikutnya. Evaluasi perlu mempertimbangkan latar belakang siswa saat masuk agar perubahan kemampuan dibaca secara adil. Data agregat dapat membantu pembuat kebijakan, sedangkan informasi pribadi siswa harus dijaga.
Peran keluarga dan masyarakat
Keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat saling mendukung melalui komunikasi rutin dan penyampaian masalah spesifik. Jika ada kendala transportasi, kebutuhan belajar, atau keamanan, laporan sebaiknya menyebut waktu dan lokasi serta disampaikan melalui kanal resmi. Masukan masyarakat lebih berguna jika diikuti respons dan tindak lanjut yang jelas.
Perluasan Sekolah Rakyat dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi hambatan akses pendidikan. Untuk mengetahui dampak jangka panjangnya, publik membutuhkan laporan terbuka tentang operasional, kualitas pengajaran, perkembangan siswa, dan dukungan setelah mereka menyelesaikan program. Evaluasi dapat berfokus pada kebutuhan anak, bukan hanya angka pembangunan.
Sumber: Sekretariat Kabinet RI — keterangan mengenai Sekolah Rakyat, 26 Oktober 2026.
Kolaborasi dan evaluasi berkala
Program pendidikan yang menyasar anak dengan latar belakang beragam memerlukan pendekatan yang tidak seragam. Sebagian siswa mungkin membutuhkan penguatan literasi dan numerasi, sementara yang lain memerlukan dukungan psikososial, akses dokumen, atau bantuan untuk kembali beradaptasi dengan rutinitas sekolah. Pendampingan sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan dan dilakukan dengan menghormati martabat serta privasi anak.
Evaluasi yang diumumkan secara berkala dapat mencakup data kehadiran, kemajuan belajar, ketersediaan guru, kondisi fasilitas, serta tindak lanjut keluhan. Angka perlu disertai definisi dan periode pelaporan agar masyarakat dapat membandingkan hasil dengan tepat. Laporan independen atau penelitian pendidikan dapat menjadi pelengkap untuk memahami apa yang berjalan baik dan aspek mana yang masih perlu diperbaiki.
Foto ilustrasi: Husniati Salma/Unsplash.